long live my family
Minggu, 02 September 2012
Keluargaku
8 Bulan
gnite.
:)
Rabu, 07 Desember 2011
Malang part i
Terik matahari yang tadinya cukup menyengat perlahan sirna tertutup awan gelap nan tebal dan jarum jam menunjukkan pukul 01.00 pm. Menunggu bus yang bisa membawa kami ke terminal Tawang Alun cukup lama juga, 2 batang rokok habis dibakar namun tak kunjung datang dan akhirnya kami putuskan tuk berjalan ke perempatan pakem tepat didepan rumah teman kami yang katanya sih mirip dengan Pak Tarno, tapi saya rasa bakatnya melebihi dari pesulap yang sering ngoceh “dibantu ya”. Sejengkal dari perempatan ternyata busnya sudah datang, sembari berlari kecil dibawah rintik-rintik gerimis kami melompat seperti pedagang asongan mencari nafkah dan duduk.
---
Rintik airnya semakin lebat dan kurasa udah masuk dalam kategori hujan. Perlahan turun dari bus bak seorang pangeran yang takut kena air hujan langkahku sangat kuperhatikan, jangan sampai basah apalagi gobyos. Berjalan santai sambil liat kanan kiri, memperhatikan wajah-wajah yang diukir dari kejamnya terminal, dan ternyata semua wajahnya sama, tampang tegas tak kenal menyerah. Si penjual terus-menerus menjajakkan barangnya, yang kerja jadi kenek terus nyari penumpangnya, dan yang ngemis tak berhenti minta dikasihani.
Kami berjalan ke peron dan bertanya kapan bus ke Malang akan berangkat, bukannya percakapan yang ada malah kaya ngeliatin orang ngomong tapi ga ada suaranya, mirip nonton Charlie Caplin. Masuk ke tempat menunggu bus yang bakal dinaikin datang, kami duduk di kursi yang disediakan, sembari meletakkan pantat tipis tanpa lemak teringat kursi yang ada di jurusan tempatku kuliah, entah berapa lama lagi aku akan pergi kesana (semoga secepatnya). Jarum jam bergerak dengan mantap dari detik ke menit dari menit ke jam dan kurasa bus kami sudah masuk ke haribaannya, kami pun bergegas dibawah guyuran air yang tak kunjung henti membuat hawanya makin dingin saja.
Bangku yang tersedia masi kosong, hanya diisi satu dua orang saja, kami pun mencari tempat duduk yang nyaman, jauh dari roda belakang tapi tak terlalu di depan, katanya bang cupank sih biar kalo ada guncangan gak terlalu terasa, aku sih ok ok saja. Duduk bersebrangan sambil cerita kesana kemari tiba-tiba ada pengamen ga jelas umurnya naik dan menyanyikan lagu milik bang Iwan Fals yang judulnya Surat Buat Wakil Rakyat, aku bilang dalam hati kalaupun nanti aku jadi wakil rakyat lagu ini harus tetap ada di handphoneku, tapi kalau dirasa-rasa belum jalan kok udah ngeluarin duit nih. Kami pun melanjutkan ngobrol berteman dengan suara-suara seruan tahu sumedang, telur puyuh, wingko, suwar-suwir, tape-tape, cewek-cewek (ngaco).
Selang 10 menit bus pun nyaris terisi penuh, pasangan mesra masuk dari pintu belakang, entah sudah berapa puluh tahun mereka bercinta tapi tetap terlihat begitu romantis seperti keluarga muda saja. Pintu depan pun tak mau kalah, pasangan-pasangan penjual minuman selalu ada dibelakang penjual makanan, dan bus pun penuh sesak seperti suaka. Namanya juga bus murah meriah, tarif biasa. Biasanya dinaiki ama mahasiswa kantong receh seperti kami, biasanya tempat pengamen nyari nafkah dari koin demi koin, tempat yang biasa dijadiin tempat nawarin makanan dan minuman ama pedagang-pedagang, biasa juga dijadiin tempat karaokean yang ujung-ujungnya dimintain duit. Dan aku pun sudah mulai terbiasa melihat pasangan mesra lewat didepan hidung ndlesepku, parahnya mereka duduk didepan kursiku.
Sebisa mungkin tetap bercakap dengan normal mulai dari ngobrolin bola sampe bencong, meskipun sesekali mencuri dengar percakapan dengan pengantarnya (saya pikir bukan cowonya) yang katanya turun di Probolinggo, hati kecil kami sedikit kecewa mendengarnya (kok cuma sampe Probolinggo doang), tapi sumpah ni cewek cantik bener, pake celana jeans ngetat gaya cewe sekarang dengan atasan kaos lengan panjang warna hijau (entah bergambar apa) dan dipadu dengan kerudung berwarna hijau muda, siplah dilihat, dan diotak udah terpatri kata menyenangkan dalam perjalanan, lebih-lebih bang cupank yang sudut pandangannya lebih jelas. Sekarang keberuntunganku yang datang, cewek dengan paras putih bergincu merah rambut bergelombang hidung mancung mata sayu penuh kelembutan dan dagu yang lancip nyaris seperti canggih widagdo, dan aku pun hanya bisa senyum-senyum doang
Bus yang penuh dengan coretan pun jalan dan rintik airnya tetap saja turun tak henti-hentinya dan membuat areal pemberangkatan bus bak kolam renang. Roda bus terus berputar, deras air pun mulai membuat kaca berembun dan kami pun mulai bosan, iseng-iseng si bang cupank mencoba menyapa, tapi sayangnya bukan muka bersahabat tapi dicuekin kaya pendemo di depan gedung DPR, ternyata cantik-cantik jutek juga, hahaha. Menahan tawa yang nyaris terpingkal-pingkal sekarang giliranku untuk menyapa cewe yang duduk tepat dibelakang bang cupank, tapi sayang belum satu kata meluncur dari mulut udah ada earphone nancep ditelinga dengan mulut komat kamit ga jelas kaya mbak dukun. Perjalanan keliatannya bakal membosankan. Yah.
Jalan nepi jalan nepi, abis nepi jalan lagi dan nepi lagi. Ada sekitar 5 penumpang naik dari pintu belakang dan ternyata salah satunya kenalan bang cupank, temen akrab dari pengisi hatinya (entah dulu apa sekarang ataupun dari dulu ampe sekarang ya, hehe), sehabis basa basi ala sapi sapa “ternyata dunia emang sempit, dan kebetulan sering terjadi”, ocehnya. Suara musisi jalanan yang melantunkan lagu banyuwangian pun mengisi kekosongan dalam bus, dan kami pun sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
---
Resiko jadi penumpang emang bisanya cuma duduk diam dan melamun. Sebatang rokok kunyalakan, bukan dapet kenyamanan malah jadi ribet ama kotoran rokok yang beterbangan mengotori pakaian. Bus masuk terminal begitu pula dengan penjual asongan yang mulai menawarkan barang-barangnya, demi sesuap nasi yang halal mereka rela membawa barang seberat itu dan menjajakkannya tanpa kenal lelah. Bertopi, kaos rada lusuh, rambut gondrong dicat merah berkali-kali mengucapkan “Tahu sumedang, Telur puyuh, Kedawung!, Tahu Mas?”, semua penumpang ditawari dan semakin lama diperhatikan semakin bikin ketawa saja. Penjual tahu diganti dengan penjual topi, “penutup telinga, penahan angin buat yang biasa keluar malam, kerja lembur, pulang malam kalau di toko-toko sepuluh ribu atau lebih disini cukup lima ribu saja”, terus diucapkannya berkali-kali membuat kami kembali terpingkal. Dan inilah kenapa kami sangat suka sekali naik angkutan umum yang Indonesia banget.
Sudah waktunya turun untuk cewe jutek nan manis, berarti sampe sini pula kebersamaan kami dalam perjalanan ini, dalam hati semoga ada penggantinya untuk memberi suasana indah dalam bus sesak ini. Bang kenek teriak “yang lanjut malang yang lanjut malang”, dalam otakku ngomong, mana ada yang beli tiket separuh-separuh kayak orang tolol aja, dan ternyata cewe berkerudung hijau memberikan uang dua puluh ribuan selember dan melanjutkan ke Malang. Dan saat itulah kami (aku dan bang cupank) berpikiran negatif.
Tak tertarik lagi, aku hanya diam dan cupank mulai terlelap mengikuti lika liku bus berjalan yang terkadang kencang dan sesekali mengerem. Hujan semakin deras saja, suara benturan air dan kaca bus membuatku hanya melamun sembari melihatnya, hujan selalu membuatku teringat akan dia yang disana seperti saat masa remaja dikala pulang sekolah dimusim penghujan dengan seragam basah kuyup dan mata merah. Kacanya mulai berembun dan semakin lama semakin tebal saja, kugoreskan simbol yang pernah ada dan pernah kurasa.
---
Rinai hujan mulai mereda, 2 orang lelaki dan 2 wanita berjilbab naek bus, sangat menjaga pakaiannya, dengan kerudung yang membalut kepala menyisakan muka yang katanya bang cupank mirip cewe yang pernah dia suka kala SMP dulu dan pakaian panjang yang kurasa bahannya cukup membuat gerah ditimpal dengan jaket tebal yang menunjukkan almamater tempat dia berkecimpung. Pemudanya mencari tempat duduk yang sampingnya lelaki (bukan homo loh), dan yang cewe pun begitu (buku lesbian juga, jauh malah), pemuda-pemuda yang menjaga harga dirinya sama seperti aku yang menjaga dompetku tetap ditempatnya. Pak sopir kerja lagi menjalankan busnya, selang beberapa menit sebuah keluarga naik, ada sang suami yang casual banget, seorang istri sambil menggendong putranya yang masih umur sekitar setahunan lah, dan kakaknya yang kurasa baru mengenyam sekolah dasar tingkat ketiga.
dan lagi
11.53 pm, di kamar. Selalu saja perasaanku menjadi aneh ketika selesai menonton sebuah film yang berakhir bahagia, lebih-lebih itu sebuah film tentang cinta. Sebuah perasaan yang dimiliki manusia karena melihat hal yang menarik dari lawan jenisnya. Mungkin banyak film drama percintaan yang kulihat seperti halnya Romeo and Juliet, Titanic, Radit dan Jani, Punk in Love, dan semua film indonesia yang isinya tak pernah jauh dari namanya cinta. Malam ini perasaanku berbeda, untuk ketiga kalinya aku menonton film ringan asal Thailand ini, sungguh-sungguh sangat ringan tapi membuat perasaanku jadi tak karuan. Mungkin aku sedang jatuh cinta ataupun mungkin suasana malam ini yang menyabotaseku, entahlah aku tak tahu yang mana. Sudah lama aku tak merasakan dadaku terasa sesak, jantung tak beritme dengan semestinya, bibir senyum-senyum tak jelas menyaksikan potong demi potong film seperti ini, mungkin aku sedang jatuh cinta ataupun mungkin suasana malam ini yang menyabotaseku. Beberapa hari yang lalu aku bertemu dengan seorang wanita yang sungguh membuatku tak mampu memalingkan tatapanku dari langkahnya, bukan karena tubuhnya yang tinggi menjulang bak model, ataupun badannya yang sexy seperti idaman wanita zaman edan kini, ataupun rambut yang terurai panjang lurus dengan warna hitam mengkilap, tapi seorang wanita yang suaranya lembut ditelinga, tiap langkah kecil dari kakinya, senyum ramah dengan tahi lalat kecil dipipinya. Mungkin aku sedang jatuh cinta ataupun mungkin suasana malam ini yang menyabotaseku. Sungguh aku ingin mengenalnya, melihat kembali senyumannya, mendengar cengkrama dari mulut kecilnya, ataupun sekedar berbalas pesan dengan handphone jadulku. Semoga aku bisa bertemu kembali dengannya. Dan kurasa aku sedang jatuh cinta. Gnite.
Selasa, 08 November 2011
Hujan tadi
Tuhan
Kau hembuskan nafas kepadaku
Kau berikan cinta kepadaku
Kau berikan hak atas kekayaan kepadaku
Kau berikan kewajiban dengan menguji kedewasaanku
Tuhan
tanah lapang itu masih ada
deretan pohon pun masih berjajar
anak ayam pun masih berceloteh
tapi aku tak tahu Kau dimana
Tuhan
senyuman kedua orang tuaku masih mengembang
foto kemesraannya pun masih terpampang
tapi kerutan diwajahnya semakin banyak saja
jangan terlalu cepat memanggil mereka
Tuhan
Kau tahu inginku
Kau tahu isi otakku
Kau lebih tahu dari yang sok tahu
Karena Kau Tuhanku
Sabtu, 14 Mei 2011
duduk ke duduk
Aku rasa beberapa hari ini waktuku banyak ku habiskan dengan "duduk", mulai dari duduk buat mengikuti perkuliahan sampe duduk buat maen poker bareng temen-temen. Kalau dipikir-pikir berapa waktu kita yang kita habiskan untuk duduk menyelesaikan pekerjaan kita ataupun sekedar mencari kesenangan dan membunuh waktu. Banyak orang yang bilang apa yang sering kau lakukan akan banyak mempengaruhi jalan pikiranmu. Ketika mengingat-ingat kata ini dan kubandingkan dengan kegiatanku belakangan ini yang banyak kuhabiskan untuk duduk, apa mungkin jalan pikiranku juga ikut "duduk" ya, yah, mungkin sebuah perenungan yang aneh kurasa, tapi juga perlu lah sekali-kali memikirkan hal yang mungkin tidak banyak dipikirkan orang.
Aku ingat betul kegiatanku dihari rabu minggu kemarin. Berawal dipagi hari sekitar pukul 06.00am yang rencananya untuk ikut kuliah jadi tak terlaksana setelah begadang semaleman hanya untuk mencari kesenangan dengan duduk didepan komputer dan bermain game yang akhirnya tidur dikursi dengan melipat kedua tangan dan air liur yang bercucuran (=='a). Setelah mata cukup berat untuk dibuka gara-gara suara berisik ayam tetangga membuat tulang ekor rasanya nyaris retak seperti baru digencet batu, padahal sih berat badanku tak sampai 50 kg saja. Jam dinding nunjukin pukul 06.30am dan waktunya untuk membersihkan badan dan bekas liur yang bikin ilfil. Beranjak ke kamar buat ngambil handuk kusempatkan sebentar untuk duduk ditepian tempat tidurku sambil mengucek kedua mata. Oke, jangan tidur lagi bentar lagi sudah waktunya kuliah jam kedua, bisikku dalam hati. Melangkah dengan gontai menuju kamar mandi dan segera kutanggalkan semua pakaian yang melekan dan hanya mengenakan celana dalam aku duduk tempat orang biasanya buang hajat. Guyur demi guyur terlewati dengan mata jereng setengah mabuk kubersihkan badan sesegara mungkin, takut ketiduran dikamar mandi dan berakhir mengenaskan. Kelar mandi segera ganti baju resmi anak kuliahan dengan atasan berkerah dan celana senormal mungkin, keluarkan motor tercinta dari haribaannya, kunyalakan dan kududuki tuh motor yang biasanya kupanggil belalang tempur mengantarkanku ke kampus tercinta yang desain interior dan eksteriornya biasa-biasa saja. Sampe ditujuan segera parkir motor dan kulihat jam di hape ternyata nunjukin 07.30am, lama juga ternyata proses dari membuka mata hingga sampai di kampus. Kulihat sudah banyak temen-temen seangkatanku yang beda jurusan sedang asyik ngobrol sambil menghisap rokoknya dalam-dalam di kantin yang dikelola Bu Rosuli (jadi inget utang yang belum ku bayar). Basa basi busuk ternyata ditawarin kopi, jadinya duduk lagi deh sambil ngobrol-ngobrol ringan mulai dari sepak bola sampe di sepak dosen. Jam udah nunjukin waktunya kuliah, dan kuputuskan untuk meninggalkan mereka dengan keasyikan yang mulai memuncak demi mencari ilmu. Duduk lagi duduk lagi, dengerin dosen selama 2 sks, yah membuat ngantuk dateng lagi gara-gara kurang tidur. Kepala berputar-putar, tertunduk dan akhirnya mendengkur, untung tidak terjadi hal yang memalukan dan semua berjalan dengan yang diharapkan. Kuliah jam kedua selesai berganti dengan terusan kuliah subuh tadi, jadinya duduk lagi deh. pantat panas bikin hati jadi miris. 2 sks berlanjut jadinya tidur juga berlanjut. duh, jadi miris kalo ngeliat mahasiswa kaya aku ini. duh Gusti. Perkuliahan selesai waktunya istirahaat.
Jam makan siang pun datang dan waktunya menyegarkan mata dan pikiran, sambil menenggak segelas es teh nan sueger di kantin GSW (kantin seberangnya Bu Rosuli) disana duduk lagi bareng temen-temen. Jadi ngerasa aneh, istirahat dari duduk dengan cara duduk (=='). Pesen makanan dan dsantap dengan lahap, untuk urusan satu ini biar badan kurus makan tetep prioritas. Menghabiskan jatah makan siang sudah kelar dan waktunya nyambangi sekret tercinta, berganti sapa dengan saudara-saudara dan duduk sebentar sambil merhatiin adek-adekku tercinta bergulat dengan kegiatannya masing-masing yang semuanya dikerjakan dengan duduk, jadi akupun ikutan duduk. Jam nunjukin 01.00pm, waktunya kuliah lagi, tapi sekarang aku tidak tidur lagi bukan karena kantukku sudah hilang tapi hawa panas nan menyayat ini yang buatku berkeringat. Dengan penuh resah dan gelisah aku duduk menantikan waktu kuliah ini berakhir, jam pun memperparah dengan kedisiplinannya, menit demi menit berganti dengan teratur dan itu terasa sangat lama nan sungguh mengecewakan. Penuh kesabaran kumenantikannya, dan harapanku pun berbuah kenyataan dengan berakhirnya perkuliahan, terlantunlah ucapan Alhamdulillah.
Sore hari, waktunya bersosialisasi dengan temen-temen di warung kesukaan, warung Buleck, warung tempatku menghabiskan malam minggu yang kelam bagi seorang jomblowan (argh....). Bersama Hardian Sugihartono a.k.a cupang a.k.a kephet bercengkrama sampai bosan dengan duduk berteman segelas es teh dan rokok(nya). Lama dan lama dan lama senja pun datang waktunya beranjak untuk melanjutkan kegiatan lainnya dirumah yang sebenernya sih cuma bertegur sapa dengan orang tua. Sampai dirumah duduk lagi melepas penat karena seharian telah duduk. Berbenah diri, isi tenaga, menghadap yang Kuasa, nonton berita sebentar biar ga ketinggalan informasi dan ternyata isunya masih gitu-gitu aja, tau gitu mending nonton Natgeo Wild dikosan pelo.
Jam dinding nunjukin 08.00pm, waktunya ketemu saudara-saudara uksm panjalu dengan segala kegilaan, kebodohan, dan canda tawa. Tempatnya masih sama, berawal dari sekret tempat berkumpul ternyata ada temen-temen dari Dewan Kesenian Kampus dari fakultas Sastra jadilah ngobrol-ngobrol tentang semuanya sambil duduk. Menghasikan malam dengan duduk.
Yah, nyaris semua kegiatanku sehari-hari hanya duduk-duduk saja, bahkan nulis ini pun dengan duduk. Semoga saja jalan pikiranku tidak duduk, lebih-lebih nilai-nilaiku. amin.
tak semuanya harus berjalan sesuai dengan aturan
lakukan dengan cara yang kau mau
buat senyaman mungkin hingga menjadi karya
hal yang menjenuhkan bukanlah rintangan
sekedar tantangan sebagai bentuk aktualisasi
diriku adalah diriku
cemoohan datang juga sudah biasa
mencari pujian dari hasil karya
semoga bisa semoga bisa
berjuang ternyata tak sesimpel kata-katanya
berjuang mungkin adalah
bersama menuju tanah lapang
Jumat, 19 November 2010
random questions
1. Seandainya kamu diberi kesempatan untuk mengubah nama, inginnya pake nama apa?
Ingin ganti nama jadi Kenzo Ainurrahman, perpaduan antara nama Jepang dengan Arab. Jadi serasa seperti ninja muslim. :D

2. Kalau disuruh milih tempat tinggal, pinginnya dimana?
yang pasti bukan Jakarta, udah macet pake banjir juga pas musim penghujan. =='

3. Siapa artis Indonesia yang pingin kamu temui?
Absolutely my Princess Alyssa Soebandono. hahahay.
4. Menurutmu dari semua yang ada di bumi, apa yang paling penting?Membuat orang lain bisa tersenyum, kalo bisa sih sampe tertawa. Betapa menyedihkannya dunia ini tanpa senyum dan tawa. ^^
5. Seandainnya punya kekuatan super, maunya apa?Bisa terbang aja udah cukup.

6. Makanan yang bisa bikin kamu nambah?
Nasi goreng lauk telor dan daging T-Rex sudah cukup. hmmm.... yummy.

7. Apa yang membuatmu bisa bertahan menjalani kehidupanmu sehari-hari?Mungkin keinginan untuk bisa merokok di esok hari. (menyedihkan..)
8. Kenyataan apa yang paling menyedihkan buatmu?Kenyataan bahwa di dalam rokok banyak mengandung RACUN. (damn..)

9. Berapakah umurmu ketika pertama kali bisa membuat balon dari permen karet?
Kira-kira kelas 3 SD, sekitar umur 8 tahunan.

10. Apa yang kau percayai dari kehidupanmu saat ini?
Brotherhood, Sir.

11. Siapa karakter komik yang kamu sukai?
My Captain, Monkey D Luffy. (hahaha, kekanak-kanakan)

