Hujan lagi hujan lagi, tapi memang hal yang wajar kalau hujan di saat musim hujan. Sekarang (02.05 PM) aku duduk diteras depan berteman sebatang rokok murah favorit dikala uang saku tinggal sedikit, rintik-rintik hujan membasahi genting rumah, mengalir perlahan, dan jatuh membuat lubang di tanah. Suasana disini tenang dan asri, kemerdekaan yang diperjuangkan opa-oma dulu benar terasa, sinar matahari yang menyeruak dari tebalnya mendung membuat pohon mangga tunjukkan bayangannya, aku rasa dibelakang rumah pasti ada pelangi yang tercipta dan para bidadari turun dari langit untuk meninggalkan selendangnya di sumber mata air tempat para pemuda sebayaku beristirahat sambil menghisap rokok dalam-dalam. Tetes airnya sudah mulai membuat genangan didepan rumah, lumut disana-sini pertanda si empunya rumah malas membersihkan halamannya, jadi merasa seperti orang tak berguna kalau begini. Kami keluarga kecil, sangat kecil untuk ukuran keluarga Indonesia yang mayoritas anggota keluarganya antara 4 hingga 6, sedangkan kami cuma bertiga, secara logika pastilah sering bertemu tapi kenyataannya tidak, bukan karena ayah saya yang selalu jarang dirumah seperti layaknya seorang bisnisman, bukan karena ibu saya yang selalu jarang dirumah untuk mengikuti arisan disana sini, tapi beliau adalah abdi negara yang memberikan pendidikan untuk generasi muda yang kebanyakan labil, yang tak mau pergi sekolah jika tak dibelikan Satria, dan saya bukan karena saya yang selalu jarang dirumah seperti layaknya seorang mahasiswa teladan yang harus mengurus ini dan itu dikampus, tapi hanya karena jam hidup saya yang berbeda dengan beliau berdua. Manusia pada umumnya memulai hidup dari pukul 5 am hingga pukul 11 pm, tetapi saya membuka mata pukul 10 am dan terlelap pukul 4 am. Dengan jadwal orangtua yang monoton dan saya yang selalu merasa bosan dirumah (nasib anak tunggal) membuat keluarga kecil ini jadi jarang bertatap mata walau raga masih bersama dalam satu rumah. Mungkin aku harus berterima kasih untuk hujan yang diturunkan Tuhan saat ini dan untuk kesedihan yang Dia berikan kepada ayahku kemarin sore, akhirnya ayah dan anak bisa sholat duhur berjamaah di musholla sederhana dengan penuh kedamaian. Sekarang hujan sudah berubah menjadi rintik gerimis, anak-anak ayam yang sedari tadi berkumpul dibawah sayap induknya sudah mulai berceloteh riang mengajak induknya mencari makan (lagi). Anak-anak tetangga yang sedari tadi tidur siang dibawah pelukan hangat bundanya ataupun hanya berteman guling kini dengan riangnya bermain sepeda dengan kostum sekolah kumalnya. Tetanggaku pun mulai berlalu lalang didepan rumah dengan sepeda tuanya berangkat ke sawah tempat harapan dan doa untuk menyambung kehidupannya berada. Inilah suasana desaku, desa tempatku (pernah) menemukan cinta dan merajut cita, tetap sama suasananya, tetap sama keramahannya, tetap sama aksen maduranya, tetap sama keakrabannya. Tuhan
Kau hembuskan nafas kepadaku
Kau berikan cinta kepadaku
Kau berikan hak atas kekayaan kepadaku
Kau berikan kewajiban dengan menguji kedewasaanku
Tuhan
tanah lapang itu masih ada
deretan pohon pun masih berjajar
anak ayam pun masih berceloteh
tapi aku tak tahu Kau dimana
Tuhan
senyuman kedua orang tuaku masih mengembang
foto kemesraannya pun masih terpampang
tapi kerutan diwajahnya semakin banyak saja
jangan terlalu cepat memanggil mereka
Tuhan
Kau tahu inginku
Kau tahu isi otakku
Kau lebih tahu dari yang sok tahu
Karena Kau Tuhanku

Tidak ada komentar:
Posting Komentar