Pemuda katanya tulang punggung negara, yang menjadi roda, mesin dan juga pengatur kecepatannya. Pencitra di setiap sendi kehidupan dan pengubah takdir dengan inovasi dalam kreasi. Pemuda adalah generasi penjawab kata tanya "bagaimana", semakin banyak semakin (semoga) baik negeri ini.
--
Tahun kemarin, dirumahku, dibawah satu naungan keluarga yang sama kami bertemu, membawa amanah dari tempatnya menuntut ilmu, menggali setiap sendi keilmuan untuk pembeda yang benar dan salah. Pondok Pesantren Sidogiri, itu tempatnya. Dengan membawa amanah untuk menyiarkan islam, berbagi ilmu yang telah diserap dari para alim ulama, dan membimbing masyarakat untuk membudayakan kebiasaannya dalam beragama. Nama panggilannya Gozi, tapi aku biasa memanggilnya Ustad saja, seorang putra Kyai besar di tanah kelahirannya Madura, mengharuskannya meneruskan tradisi kepemimpinan dan menjadi contoh yang baik bagi masyarakatnya. Walaupun kesehariannya berkecimpung dengan hal yang berbau "agama" tak menjadikannya seorang yang gaptek atau tak tahu teknologi. Ternyata dia sangat lihai bermain corel draw dan photoshop membuatku kikuk yang katanya seorang mahasiswa (hha), tak jadilah kenyataan keluhan Ibuku yang beliau pikir komputer dirumah bakal mangkrak alias cuma jadi pajangan doang. Hampir disetiap kesempatan dia mencoba berkreasi dan menuangkan ide-idenya. Kejutan pun tak berhenti disitu, ternyata si abang ini pandai juga membuat kaligrafi, entah itu di atas kanvas, kulit hewan, ataupun diatas selembar kayu lapis. Umur kami tak jauh beda, hanya terpaut satu tahun lebih sedikit, tapi untuk dari segi menghibur orang dia jagonya. Mampu berkomunikasi dengan siapa saja, mulai dari anak kecil sampai orang tua, selalu riang ditiap harinya. Berkulit putih dan berpostur tambun, sangat mudah dikenali lebih-lebih wajahnya berbau arab-arab gitu, untuk menjadi seorang Kyai besar dari segi fisik sudah masuk kriteria.
--
Pagi mengumandangkan adzan (kalau ga telat bangunnya), sholat subuh berjamaah, mengaji sebentar menjelang datangnya mentari, aktivitas ringan menunggu pukul 7 dan dilanjutkan dengan mandi pagi, bersiap untuk menjadi teman bermain bagi anak-anak TK sedari pukul 07.30 hingga 10.00, sarapan sebagai pengisi energi dan melepas lelah dengan menuangkan ide-idenya, 01.30 waktunya mandi siang dan bersiap menjadi pendidik yang baik bagi para anak-anak di TPA, diawali dengan sholat dhuhur dan diakhiri dengan sholat ashar, waktunya makan sore bersama (kalau saya lagi ada dirumah), berkutat tak jelas atau bersilaturahmi atau juga bermain dengan para santri yang datang untuk bermain selepas berganti pakaian hingga pukul 5 sore, waktunya mandi dan bersiap untuk kegiatan malam, berkumandang suara adzan maghrib dimulailah kegiatan Madrasah Diniyah bagi anak-anak yang rata-rata masi mengenyam bangku SD tahun akhir, SMP, dan SMA (aku udah lama vakum, pingin ngaji lagi ^^a). Ilmu diberikan, mulai dari tata cara mengesakan Allah hingga ilmu dasar sebagai bekal mengkaji kitab-kitab tulisan para cendikiawan. Setelah berkutat selama kurang lebih satu jam setengah waktunya sholat isya' da penutup kegiatan keilmuan di malam hari. Selepas itu waktunya makan malam dengan masakan hasil karya Ibu tercinta sembari bercengkrama ringan. Lewati malam dengan berbincang ataupun berbagi ilmu ataupun sekedar mendengarkan musik.
--
Waktu terasa cepat berlalu, tak dirasa sudah 10 bulan dia disini, berbagi semua yang ada, menjalani hari-hari jauh dari keluarga demi menunaikan amanah dan syarat kelulusan. Tak bertemu untuk waktu yang dekat, mungkin itu kata yang tepat untuk melepasnya mengarungi dunia dikeberlanjutan hidupnya. Sekarang dia sedang menunaikan ibadah haji, semoga engkau menjadi haji yang mambrur ustadku. Salam untuk keluarga nun jauh disana. Maaf saya tak bisa temanimu di tiap waktumu, ku hanya bisa temanimu di tiap waktu luangku. Aku dan kamu teman dalam tiap kesempatan. See you.