Terik matahari yang tadinya cukup menyengat perlahan sirna tertutup awan gelap nan tebal dan jarum jam menunjukkan pukul 01.00 pm. Menunggu bus yang bisa membawa kami ke terminal Tawang Alun cukup lama juga, 2 batang rokok habis dibakar namun tak kunjung datang dan akhirnya kami putuskan tuk berjalan ke perempatan pakem tepat didepan rumah teman kami yang katanya sih mirip dengan Pak Tarno, tapi saya rasa bakatnya melebihi dari pesulap yang sering ngoceh “dibantu ya”. Sejengkal dari perempatan ternyata busnya sudah datang, sembari berlari kecil dibawah rintik-rintik gerimis kami melompat seperti pedagang asongan mencari nafkah dan duduk.
---
Rintik airnya semakin lebat dan kurasa udah masuk dalam kategori hujan. Perlahan turun dari bus bak seorang pangeran yang takut kena air hujan langkahku sangat kuperhatikan, jangan sampai basah apalagi gobyos. Berjalan santai sambil liat kanan kiri, memperhatikan wajah-wajah yang diukir dari kejamnya terminal, dan ternyata semua wajahnya sama, tampang tegas tak kenal menyerah. Si penjual terus-menerus menjajakkan barangnya, yang kerja jadi kenek terus nyari penumpangnya, dan yang ngemis tak berhenti minta dikasihani.
Kami berjalan ke peron dan bertanya kapan bus ke Malang akan berangkat, bukannya percakapan yang ada malah kaya ngeliatin orang ngomong tapi ga ada suaranya, mirip nonton Charlie Caplin. Masuk ke tempat menunggu bus yang bakal dinaikin datang, kami duduk di kursi yang disediakan, sembari meletakkan pantat tipis tanpa lemak teringat kursi yang ada di jurusan tempatku kuliah, entah berapa lama lagi aku akan pergi kesana (semoga secepatnya). Jarum jam bergerak dengan mantap dari detik ke menit dari menit ke jam dan kurasa bus kami sudah masuk ke haribaannya, kami pun bergegas dibawah guyuran air yang tak kunjung henti membuat hawanya makin dingin saja.
Bangku yang tersedia masi kosong, hanya diisi satu dua orang saja, kami pun mencari tempat duduk yang nyaman, jauh dari roda belakang tapi tak terlalu di depan, katanya bang cupank sih biar kalo ada guncangan gak terlalu terasa, aku sih ok ok saja. Duduk bersebrangan sambil cerita kesana kemari tiba-tiba ada pengamen ga jelas umurnya naik dan menyanyikan lagu milik bang Iwan Fals yang judulnya Surat Buat Wakil Rakyat, aku bilang dalam hati kalaupun nanti aku jadi wakil rakyat lagu ini harus tetap ada di handphoneku, tapi kalau dirasa-rasa belum jalan kok udah ngeluarin duit nih. Kami pun melanjutkan ngobrol berteman dengan suara-suara seruan tahu sumedang, telur puyuh, wingko, suwar-suwir, tape-tape, cewek-cewek (ngaco).
Selang 10 menit bus pun nyaris terisi penuh, pasangan mesra masuk dari pintu belakang, entah sudah berapa puluh tahun mereka bercinta tapi tetap terlihat begitu romantis seperti keluarga muda saja. Pintu depan pun tak mau kalah, pasangan-pasangan penjual minuman selalu ada dibelakang penjual makanan, dan bus pun penuh sesak seperti suaka. Namanya juga bus murah meriah, tarif biasa. Biasanya dinaiki ama mahasiswa kantong receh seperti kami, biasanya tempat pengamen nyari nafkah dari koin demi koin, tempat yang biasa dijadiin tempat nawarin makanan dan minuman ama pedagang-pedagang, biasa juga dijadiin tempat karaokean yang ujung-ujungnya dimintain duit. Dan aku pun sudah mulai terbiasa melihat pasangan mesra lewat didepan hidung ndlesepku, parahnya mereka duduk didepan kursiku.
Sebisa mungkin tetap bercakap dengan normal mulai dari ngobrolin bola sampe bencong, meskipun sesekali mencuri dengar percakapan dengan pengantarnya (saya pikir bukan cowonya) yang katanya turun di Probolinggo, hati kecil kami sedikit kecewa mendengarnya (kok cuma sampe Probolinggo doang), tapi sumpah ni cewek cantik bener, pake celana jeans ngetat gaya cewe sekarang dengan atasan kaos lengan panjang warna hijau (entah bergambar apa) dan dipadu dengan kerudung berwarna hijau muda, siplah dilihat, dan diotak udah terpatri kata menyenangkan dalam perjalanan, lebih-lebih bang cupank yang sudut pandangannya lebih jelas. Sekarang keberuntunganku yang datang, cewek dengan paras putih bergincu merah rambut bergelombang hidung mancung mata sayu penuh kelembutan dan dagu yang lancip nyaris seperti canggih widagdo, dan aku pun hanya bisa senyum-senyum doang
Bus yang penuh dengan coretan pun jalan dan rintik airnya tetap saja turun tak henti-hentinya dan membuat areal pemberangkatan bus bak kolam renang. Roda bus terus berputar, deras air pun mulai membuat kaca berembun dan kami pun mulai bosan, iseng-iseng si bang cupank mencoba menyapa, tapi sayangnya bukan muka bersahabat tapi dicuekin kaya pendemo di depan gedung DPR, ternyata cantik-cantik jutek juga, hahaha. Menahan tawa yang nyaris terpingkal-pingkal sekarang giliranku untuk menyapa cewe yang duduk tepat dibelakang bang cupank, tapi sayang belum satu kata meluncur dari mulut udah ada earphone nancep ditelinga dengan mulut komat kamit ga jelas kaya mbak dukun. Perjalanan keliatannya bakal membosankan. Yah.
Jalan nepi jalan nepi, abis nepi jalan lagi dan nepi lagi. Ada sekitar 5 penumpang naik dari pintu belakang dan ternyata salah satunya kenalan bang cupank, temen akrab dari pengisi hatinya (entah dulu apa sekarang ataupun dari dulu ampe sekarang ya, hehe), sehabis basa basi ala sapi sapa “ternyata dunia emang sempit, dan kebetulan sering terjadi”, ocehnya. Suara musisi jalanan yang melantunkan lagu banyuwangian pun mengisi kekosongan dalam bus, dan kami pun sibuk dengan pikiran kami masing-masing.
---
Resiko jadi penumpang emang bisanya cuma duduk diam dan melamun. Sebatang rokok kunyalakan, bukan dapet kenyamanan malah jadi ribet ama kotoran rokok yang beterbangan mengotori pakaian. Bus masuk terminal begitu pula dengan penjual asongan yang mulai menawarkan barang-barangnya, demi sesuap nasi yang halal mereka rela membawa barang seberat itu dan menjajakkannya tanpa kenal lelah. Bertopi, kaos rada lusuh, rambut gondrong dicat merah berkali-kali mengucapkan “Tahu sumedang, Telur puyuh, Kedawung!, Tahu Mas?”, semua penumpang ditawari dan semakin lama diperhatikan semakin bikin ketawa saja. Penjual tahu diganti dengan penjual topi, “penutup telinga, penahan angin buat yang biasa keluar malam, kerja lembur, pulang malam kalau di toko-toko sepuluh ribu atau lebih disini cukup lima ribu saja”, terus diucapkannya berkali-kali membuat kami kembali terpingkal. Dan inilah kenapa kami sangat suka sekali naik angkutan umum yang Indonesia banget.
Sudah waktunya turun untuk cewe jutek nan manis, berarti sampe sini pula kebersamaan kami dalam perjalanan ini, dalam hati semoga ada penggantinya untuk memberi suasana indah dalam bus sesak ini. Bang kenek teriak “yang lanjut malang yang lanjut malang”, dalam otakku ngomong, mana ada yang beli tiket separuh-separuh kayak orang tolol aja, dan ternyata cewe berkerudung hijau memberikan uang dua puluh ribuan selember dan melanjutkan ke Malang. Dan saat itulah kami (aku dan bang cupank) berpikiran negatif.
Tak tertarik lagi, aku hanya diam dan cupank mulai terlelap mengikuti lika liku bus berjalan yang terkadang kencang dan sesekali mengerem. Hujan semakin deras saja, suara benturan air dan kaca bus membuatku hanya melamun sembari melihatnya, hujan selalu membuatku teringat akan dia yang disana seperti saat masa remaja dikala pulang sekolah dimusim penghujan dengan seragam basah kuyup dan mata merah. Kacanya mulai berembun dan semakin lama semakin tebal saja, kugoreskan simbol yang pernah ada dan pernah kurasa.
---
Rinai hujan mulai mereda, 2 orang lelaki dan 2 wanita berjilbab naek bus, sangat menjaga pakaiannya, dengan kerudung yang membalut kepala menyisakan muka yang katanya bang cupank mirip cewe yang pernah dia suka kala SMP dulu dan pakaian panjang yang kurasa bahannya cukup membuat gerah ditimpal dengan jaket tebal yang menunjukkan almamater tempat dia berkecimpung. Pemudanya mencari tempat duduk yang sampingnya lelaki (bukan homo loh), dan yang cewe pun begitu (buku lesbian juga, jauh malah), pemuda-pemuda yang menjaga harga dirinya sama seperti aku yang menjaga dompetku tetap ditempatnya. Pak sopir kerja lagi menjalankan busnya, selang beberapa menit sebuah keluarga naik, ada sang suami yang casual banget, seorang istri sambil menggendong putranya yang masih umur sekitar setahunan lah, dan kakaknya yang kurasa baru mengenyam sekolah dasar tingkat ketiga.
